- Wawali Banjarbaru Mundur! Ketua GMPD: Pengganti Harus Dari Partai Koalisi dan Dekat Kepada Warga
- WALHI Kalsel Desak KLH Buka Data 335 Perusahaan yang Diinvestigasi Terkait Karhutla
- Pemkab Kotabaru dan Kementerian ATR/BPN Bahas Potensi Pengembangan Serongga
- Diskusi Kritis di Banjarbaru, Djarot PDIP: Anak Muda Diam, Politik Akan Dikuasai Orang Tidak Waras
- 20 Korporasi Tersangka Karhutla, WALHI Region Kalimantan Tantang Polri Penjarakan Direkturnya!
- Pelantikan KNPI Kotabaru Periode 2026–2029, Pemuda Diajak Bersatu dan Berkontribusi untuk Daerah
- Pengurus KNPI Kotabaru Periode 2026–2029 Resmi Dilantik, Kadisparpora: Kami Siap Kolaborasi
- Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat Ancam Demo Gubernur Kaltim pada 4 Nopember 2026
- Pemprov Kaltim Ikuti Rakornas TPAKD 2026
- Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotabaru Bagikan Bonus Bagi Atlet Juara Porprov 2025
Meski Tak Tersentuh Bantuan Modal Usaha Dari Pemerintah,Siti Gigih Berjualan Topang Ekonomi Keluarga

Keterangan Gambar : Siti dan dua anaknya dibawah terik matahari saat berjualan di tepi jalan protokol Sebelimbingan-Pantai Baru, Senin (29/9/2025).
Kotabaru, Borneopos.com - Gambaran memprihatinkan sekaligus heroik tampak saat kita melintas jalan protokol Desa Sebelimbingan - Pantai Baru, tak jauh dari jalan persimpangan menuju Kantor Bupati Kotabaru.
Baca Lainnya :
Dibawah terik matahari, terlihat seorang ibu muda, warga desa Pantai Baru, RT.06 Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru, Siti (25 tahun) bersama kedua anaknya yang berumur 1 (satu) dan 4 (empat) tahun sedang menunggu dagangannya berupa makanan (mie goreng).
Siti menceritakan kepada Borneopos.com, Senin (29/9/2025) dia berjualan di pinggir jalan protokol Sebelimbingan - Pantai Baru sudah lebih setengah tahun.
"Dulu ulun beberapakali menjajakan dagangan berupa kue, mie dan gorengan keliling di kantor Bupati dan kantor lainnya, tapi kurang laku, jadi ulun kembali berjualan disini," tuturnya lirih.
Lebih lanjut Siti menuturkan bahwa setiap hari dirinya mulai berjualan sekitar jam 07.00 Wita dan pulang siang atau sore hari, tak peduli jika cuaca panas atau hujan. Jika lagi beruntung dan ada pembeli yang memborong dagangannya, dia bisa pulang kerumah lebih awal.
"Dagangan (mie goreng) ini bukan ulun yang buat, ulun hanya mengambil upah menjualkan, per bungkus ulun dapat Rp. 1.000 rupiah, jadi hari ini Ulun bawa 25 bungkus, jadi kalau habis bisa dapat 25 ribu," terangnya bersemangat kepada Borneopos.com.

Pengamatan Borneopos.com dilapangan, Senin (28/9/2025) tampak raut wajah Siti yang lelah karena kepanasan, berjualan tanpa tanpa menggunakan payung, kursi meja dan tikar, melainkan langsung meletakkan barang dagangannya diatas tanah berbatu dan dia duduk bersama kedua anaknya di samping dagangannya.
"Meski kondisi seperti ini, berjualan tanpa payung, kena hujan dan panas, ulun tetap semangat, karena niat untuk membantu ekonomi keluarga. Dari rumah ulun di Pantai Baru ke sini tak pakai ongkos, karena cari tumpangan," ucapnya.
Siti juga menjelaskan bahwa saat ini dirinya bersama suami yang bekerja sebagai kuli bangunan belum memiliki rumah "kami tinggal di pondok kerabat, sambil menjagakan pondokan," terangnya.
Saat ditanya soal bantuan sosial apa saja dari pemerintah kabupaten yang diterima Siti dan keluarganya, dia mengungkapkan belum ada menerima bantuan apapun kecuali beras dari desa.
"Bantuan uang, modal usaha dan lainnya, ulun belum pernah menerima, kecuali pembagian baras dari desa," ungkapnya penuh harap.
Potret pejuang kelaurga serta pelaku UMKM sejati seperti Siti patut mendapat perhatian pemerintah Daerah (dinas Sosial, Diskoperindag dan lainnya), perusahaan-perusahaan melalui CSR dan stake holder lainnya.
Diakhir penuturannya kepada Borneopos.com Siti berharap agar dirinya bisa hidup lebih baik dan lebih layak.
"Mudahan rakyat miskin seperti kami mendapat perhatian,, dan bisa mendapat bantuan modal usaha agar hidup kami bisa lebih layak" tutupnya. (red)


Baca Lainnya :
Berita Kotabaru













