- Sadrak Sitorus Utusan Kotabaru Berhasil Raih Gold Pada Pesparawi Nasional ke-XIV 2026 di Papua
- Kadisparpora: FBS 2026 Akan Tonjolkan Keragaman Budaya di Bumi Saijaan
- Atlet Gantole Asal Jawa Tengah, Sulis Widodo Akui Keindahan Bumi Saijaan
- MTQN ke-37 Resmi di Tutup, Kotabaru Naik ke Peringkat 4 dari 13 Kabupaten/Kota
- Buku *Bunda Literasi Banua* Resmi Diluncurkan, Jadi Panduan Praktis Cerdaskan Masyarakat
- Bunda Literasi Kalsel Ajak Seluruh SKPD Bangun Pojok Baca Lewat Semesta Buku 2026
- Peringatan HANI 2026, YPR Kobra dan Dinsos Kalsel Ajak Masyarakat Lawan Narkoba
- Gubernur Kalsel Tinjau Rencana Pembangunan Gedung Kedokteran Nuklir dan Pusat Layanan Jantung
- Cari Bibit Unggul di Kalsel, Festival Sepak Bola Usia Dini U-10 dan U-12 Resmi Bergulir
- Pembinaan di Tanah Laut, TP Posyandu Kalsel Dorong Pelayanan Enam SPM
Opini | UMKM Mama Khas Banjar MEMILIH MATI

Keterangan Gambar : Karikatur Ilustrasi (istimewa)
Oleh : Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
Borneopos.com, Banjarmasin - Karena tidak tahan berbagai tekanan entah dari mana datangnya, akhirnya Mama Khas Banjar, UMKM yang merintis usahanya dari nol tersebut, "memilih mati".
Persis 1 Mei, ketika hari buruh dikumandangkan di seluruh dunia, pemiliknya mengumumkan bahwa usaha mereka tutup.
Apa untungnya bagi para penekan, hingga membuat UMKM tidak nyaman dalam berusaha? Mungkin hanya “kepuasan”. Puas seolah berhasil menegakkan aturan setegak-tegaknya. Puas karena sudah berhasil menuntut sedemikian rupa, hingga UMKM yang dianggap musuh, menyerah terkapar tidak tahan. Dan mungkin puas, sebab mampu membuktikan bahwa kami berkuasa, kami hebat. Di luar dari “kepuasan” tersebut, rasanya tidak ada sedikitpun yang disebut untung.
Tidakkah terpikir oleh para penuntut, betapa besar kerugian bila satu saja UMKM mati karena tidak tahan oleh tekana-tekanan dalam berusaha. Karyawannya di rumahkan, padahal UMKM itu pahlawan yang telah membuka lapangan pekerjaan. Sedangkan pemerintah, sedikit pun tidak mampu membuka lapangan pekerjaan. Mestinya, semua yang berhasil membuka lapangan pekerjaan, terutama UMKM yang jumlahnya sangat besar, diberikan apresiasi dan pengharaan.
Bandingkan lapangan pekerjaan yang mampu diserap UMKM. Boleh bandingkan dengan pemerintah atau perusahaan besar sekali pun. Jumlahnya tidak sebanding, jauh lebih besar yang mampu diserap UMKM. Lantas kenapa dimatikan?
UMKM juga terbukti berungkali menjadi pahlawan roda ekonomi masyarakat. Baca saja sejumlah penelitian ilmiah, UMKM lah yang berhasil memutar roda ekonomi di tingkat bawah, bahkan pada saat krisis ekonomi melanda, termasuk saat pandemi. Ketika satu UMKM dibunuh, maka satu bagian dari roda ekonomi itu berhenti berputar.
Tidakkah pula terpikir, tutupnya satu UMKM, telah memberi efek besar bagi ketakutan warga membuka usaha.
Mama Khas Banjar yang memilih mati, telah berhasil mengirim pesan, bahwa UMKM itu saat kecil nampaknya dibina, namun bila sudah tumbuh agak besar akan ada yang memikirkan untuk dibinasakan, disembelih dengan berbagai ketentuan, termasuk sistem perizinan, sistem hukum yang picik, berbagai aturan yang semakin rumit, serta pajak berlapis, yang membuat usaha jenis apapun tidak mampu berkembang leluasa.
Memilih mati, adalah pesan bahwa ternyata pemerintah tidak mampu melindungi UMKM dari tekanan yang tidak penting, yang sekedar memenuhi kepuasan. (nm)
Baca Lainnya :














