Raline Shah: Dampak Biologis Media Sosial bagi Anak seperti Racun yang Mengendalikan Tubuh

Reported By Ronal 19 Mar 2026, 06:53:40 WIB NASIONAL
Raline Shah: Dampak Biologis Media Sosial bagi Anak seperti Racun yang Mengendalikan Tubuh

Keterangan Gambar : Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital, Raline Shah.




Jakarta, Borneopos.com – Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital, Raline Shah, menyoroti dampak serius penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental dan biologis, khususnya pada anak-anak, implementasi 


Baca Lainnya :

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatandalam implementasi dan penguatan implementasi Peraturan Pemerintah Noomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) silaturahmi dan buka puasa bersama Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Widya Chandra, Jakarta, Rabu (18/3/2026).


Raline mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan tidak hanya berdampak secara psikologis, tetapi juga memengaruhi sistem biologis tubuh manusia.

Menurutnya, kebiasaan seperti scrolling dan konsumsi konten negatif secara terus-menerus dapat memicu gangguan pada hormon dan sistem saraf.


“Kita sering tidak sadar bahwa apa yang kita tonton dan dengar itu mengendalikan sistem pengaturan saraf kita,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa algoritma platform digital secara konsisten menyajikan konten yang disesuaikan dengan preferensi pengguna, sehingga memperkuat efek kecanduan.


Raline menjelaskan bahwa media sosial bekerja dengan memicu kecanduan dopamin, yakni hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan.


Kondisi ini membuat pengguna terus-menerus terdorong untuk mengakses konten digital tanpa kontrol yang memadai.


“Ada dorongan dopamin dan adrenalin yang membuat kita terus ingin kembali. Ini yang membuat kecanduan,” jelasnya.


Ia menegaskan, jika orang dewasa saja dapat terdampak secara signifikan, maka anak-anak memiliki risiko yang jauh lebih besar karena perkembangan otaknya belum sempurna.


Raline menyebut paparan berlebihan terhadap media sosial dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk perkembangan korteks prefrontal yang berperan dalam pengambilan keputusan dan kontrol diri.


“Kalau kita saja bisa sangat terpengaruh, bayangkan anak-anak. Dampaknya bisa sangat fatal,” tegasnya.


Selain itu, ia menilai paparan konten digital yang terus-menerus juga berpotensi menurunkan tingkat kesadaran serta kemampuan berpikir kritis.


Hal ini terjadi karena individu cenderung hanya mengonsumsi informasi yang sesuai dengan preferensi algoritma, tanpa proses refleksi yang mendalam.


“Informasi yang kita terima sering kali sudah didramatisasi, dan kita hanya mengikuti apa yang ingin kita yakini,” katanya.


Sebagai refleksi pribadi, Raline mengaku pernah menjalani detoksifikasi digital selama 10 hari tanpa menggunakan ponsel.


Pengalaman tersebut membuatnya menyadari tingkat ketergantungan terhadap perangkat digital.


“Saat tidak menggunakan ponsel, saya merasakan betapa kuatnya ketergantungan itu,” ungkapnya.


Raline menekankan bahwa upaya perlindungan anak tidak cukup hanya melalui regulasi, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan keluarga.


Ia mengingatkan bahwa orang tua harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi digital.


“Guru terbesar bagi anak adalah orang tua. Kita harus hadir sepenuhnya saat bersama mereka, bukan sibuk dengan ponsel,” ujarnya.


Raline juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah dalam membatasi penggunaan media sosial bagi anak, meskipun berpotensi menimbulkan penolakan di masyarakat.


Namun, menurutnya, langkah tersebut penting untuk melindungi generasi muda dari dampak jangka panjang yang lebih serius.


“Kalau kita sudah memahami dampaknya secara biologis dan kemanusiaan, maka upaya pencegahan ini menjadi sangat penting,” pungkasnya. (red/ip)



Baca Lainnya :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment