- Bupati Rusli Sambangi Balai KSDA Kalsel, Bahas Soal Pengembangan Pelabuhan di Kotabaru
- Perkuat Keberagaman, Koalisi Beragama Berkeyakinan Gelar Seminar Nasional di Banjarmasin
- Uji Publik Roadmap Geopark di Kotabaru, Sejumlah Obyek Wisata Masuk Daftar
- Gubernur Kalsel Terima Penghargaan Adhi Bhakti Tani Nelayan Utama 2026
- Disparpora Kotabaru Lestarikan Budaya Suku Mandar Lewat Festival Katir Race Mini dan Pesta Rakyat
- Ditengah Terik Musim Kemarau, Bangunan Eks PT. Misaya Mitra Kotabaru Diamuk Sijago Merah
- Karhutla Dekati Ring 1 Bandara Syamsudin Noor, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api
- BPKAD Kotabaru Gelar Sosialisasi Perda Tentang Pengelolaan BMD dan Bimtek E-BMD
- Pemprov Kalsel dan MUI Bersinergi, Dorong Penguatan Kerukunan Umat di Banua
- Api Masih Membara di Bawah Gambut, Muhidin Bagi Tugas Satgas Agar Lebih Terarah
Opini | Poblem Urban Di TANGAH KARTAK

Keterangan Gambar : Foto : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneo Pos -- Problem urban, adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari bagi kota-kota yang mengalami pertumbuhan pembangunan atau industrialisasi. Menjadi tantangan bagi manajemen kota, agar warga tetap hidup secara mulia dan bermartabat.
Baca Lainnya :
- Perkuat Sinergitas, Bupati Samosir Terima Audiensi Kakan Perwakilan BI Sibolga0
- Hj. Rosidah Anggota DPRD Kotabaru Serahkan Ratusan Mesin Domping Untuk 144 Kelompok Nelayan 0
Laju urbanisasi yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 3,03% per tahun, bukan lagi sebatas proses perpindahan penduduk dari desa ke kota, melainkan fenomena yang muncul dari dinamika perkembangan kota, baik disadari atau pun tidak terduga.
Pemukiman kumuh, produksi sampah, krisis air bersih, gizi buruk, kemampuan bertahan hidup, kriminalisasi, keseimbangan ekologis, ruang terbuka hijau, kemacetan lalu lintas, kelangkaan lahan parkir, dan ketidakadilan, menjadi bola salju yang terus bergulir. Bila tidak ditanggani secara serius, akan mengancam warga kota.
Jalan raya, atau dalam bahasa Banjar disebut “tangah kartak”, dapat menjadi ekspresi atau wajah dari problem urban.
Untuk melihat sebuah kota ditangani dan dikelola secara serius atau sekedarnya, tidak perlu melakukan audit pemerintahan atau pun mengevaluasi tata kelola pemerintah dengan metodologi yang rumit. Cukup lihat dan amati “tangah kartak”, akan tergambar semua potret yang menggambarkan kemampuan dan keseriusan dalam mengelola kota.
Kota yang tidak mampu dikelola dengan baik, di tangah kartaknya akan terlihat wajah kemiskinan melalui manusia silver, manusia gerobak, manipulasi becak untuk mengemis, ekspolitasi balita untuk meminta, dan berbagai bentuk kreativitas mengemis dalam rangka bertahan hidup dan menuntut keadilan hidup.
Juga tergambar kemacetan, akses jalan yang sangat terbatas, trotoar yang tidak memuliakan penjalan kaki dan penyandang disabilitas, sampah berserakan tanpa ada yang memedulikan, parkir sesuka hati, serta arogansi pengendara yang tidak patuh pada aturan lalu lintas.
Karena itu, bila ingin membenahi kota, jangan abaikan “tangah kartak”, karena dia menjadi etalase, bagi segala ekspresi tentang kondisi sebenarnya sebuah kota.
Walau hanya sepintas melewati jalan raya, wajah sejatinya sebuah kota akan terlihat dengan jelas, apakah dikelola secara serius atau “sahibarnya” saja?. (nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0














