- PDAM Kotabaru Sebut Program-Programnya Saat Ini Bersifat Lama, Belum Bisa Terobosan
- Dinkes Kalsel Periksa Kondisi Pengemudi Angkutan Umum Mudik Idulfitri
- Polres Kotabaru Laksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Intan 2026
- HUT Satpol PP ke-76, Satlinmas ke-67 dan Damkar ke-107, Pemprov Kalsel Perkuat Profesionalitas
- Safari Ramadhan Pemprov Kalsel di Kotabaru, Wujud Nyata Kebersamaan Daerah
- Polda Kalsel dan ULM, Kompak Dirikan Pusat Studi Ilmu Kepolisian
- Bupati Kotabaru Lantik Ratusan Pejabat Administrator, Pengawas, Fungsional dan Kepala Puskesmas
- Bupati Kotabaru Berikan 172 Paket Sembako Kepada Petugas Lapangan Dinas Lingkungan Hidup
- KPK OTT Bupati Rejang Lebong! Diduga Terima Fee Proyek
- RSUD Ulin Bantu Biaya Kesehatan Warga Miskin Melalui Dana Pendamping
OPINI | Pertumbuhan 5,14% Kerusakan 100%
2.jpg)
Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Pertambangan dan Perkebunan kelapa sawit yang begitu gegap gempita di Kalimantan Selatan, ternyata hanya melahirkan pertumbuhan ekonomi 5,14%. Sementara itu kerusakan yang dihasilkannya mencapai 100%, sebab pasca tambang dan sawit, hanyalah meninggalkan potensi bencana, bala, musibah dan tragedi.
Baca Lainnya :
- Tantangan Pendidikan Dasar Tanpa Biaya 0
- Ambin Demokrasi | Suriani Hair Aktivis Tak Tersorot Kamera, Tutup Usia0
Model ekonomi ekstraktif yang berfokus pada pengambilan sumber daya alam seperti batubara, tidak dapat dipertahankan lagi.
Sayangnya pemerintah daerah tidak punya kemampuan melakukan diversifikasi, guna mengurangi risiko dengan menyebarkan investasi atau sumber daya ke berbagai bidang dan sektor yang berbeda, sehingga ketergantungan pada satu sektor batubara, dapat dikurangi perlahan dengan sektor lain yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Berpuluh tahun batubara dan sawit merajai dan merusak lingkungan, namun adakah dikonversi dalam bentuk peningkatan sumber daya manusia? Adakah, dan kalau ada, berapa banyak anak-anak banua yang disekolahkan ke berbagai universitas ternama di Indonesia dan dunia melalui duit batubara dan sawit, sehingga setelah semua itu habis, sudah tersedia sumber daya manusia unggul, yang mampu memikirkan diversifikasi ekonomi pada sektor yang lebih ramah dan berkelanjutan, sehingga Kalimantan Selatan masih mungkin berjaya beratus tahun lagi.
Kalau tidak ada sedikit pun konversi terhadap peningkatan sumber daya manusia, uangnya habis hanya untuk berfoya-foya dan norak layaknya OKB, orang kaya baru, yakinlah setelah sumber daya alam Kalimantan Selatan habis, yang tersisa hanyalah kemiskinan, penderitaan dan ancaman musibah dan bala, karena alam begitu rentan dengan bencana.
Apa yang dibanggakan dengan pertumbuhan 5,14%? Sementara alam rusak “kada katulungan”. Jangan-jangan tanpa batubara dan sawit pertumbuhan Kalimantan Selatan lebih dari itu? Syaratnya asal para pemimpin daerah berpikir mengupayakan sektor lain yang lebih aman lagi berjangka panjang.
Dahulu kita berjaya dengan karet, bahkan potensi karet kita pernah menjadi yang terbaik di dunia. Kita juga pernah berjaya dengan rotan, hasil rotan kita memenuhi permintaan pasar dunia karena kualitasnya sangat bagus. Pertanian kita juga pernah unggul dengan varitas lokal seperti mayang, unus, siam, karandukuh, dan berhasil swasembada.
Sekarang, setelah hutan dirusak, dijadikan pertambangan, hutan rotan yang lebat itu hilang seketika. Karet pun dianggap tidak produktif, digantikan sawit, ketika itulah hamparan lahan yang sudah menjadi tambang dan sawit, sangat rentan dengan bencana, karena sudah tidak lagi menjadi menyangga kehidupan. Sawah-sawah juga menjadi perumahan, sehingga lumbung dan kindai padi berpindah ke toko-toko swalayan.
Harus disadari, segala kemewahan dari hasil batubara dan sawit, yang menjadikan segelintir orang kaya selangit, tidak akan bermakna apapun, mana kala pontensi kerusakannya nyata 100% dan berisiko bencana.
Bencana Sumatera yang baru saja terjadi, memberikan gambaran nyata bahwa tidak ada keuntungan apapun yang didapat dari ekonomi ekstraktif. Karena bencana yang dihasilkannya, tidak sebanding dengan yang didapatkan.
Pun ketika banjir Januari 2021 yang melanda Kalimantan Selatan, memberikan pelajaran berharga, bahwa kerugian yang telah kita tanggung secara bersama, sangat tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan selama ini.
Sayangnya, kita tidak pernah mau belajar. Padahal bencana akan terus berulang, manakala alam sudah tidak punya kemampuan memberikan keseimbangan pada perubahan iklim. (red/nm)
Baca Lainnya :
- OPINI | Kesetaraan Pejabat dan Warga, Ala Swedia0
- Sungai Dan Sampah, Jadi Prioritas 100 Hari Kerja Walikota dan Wawali Banjarmasin Terpilih0












