- Indocement Tarjun Latih Karyawan dan Stakeholder Terkait Penyelamatan di Ruang Terbatas
- Lokakarya Tari Topeng Srikandi Jadi Upaya Taman Budaya Kalsel Revitalisasi Topeng Banjar
- RSUD Ulin Perkuat Transformasi Pelayanan Kesehatan Lewat Forum Konsultasi Publik
- Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dilaksanakan di Kotabaru
- Setda Kotabaru Dorong ASN Cerdas Finansial di Era Digital
- Kotabaru Sambut Tim Penilai Lomba Desa Kalsel
- Tingkatkan Disiplin dan Loyalitas, Pemkab Kotabaru Gelar Apel Hari Kesadaran Nasional
- 30 Pemuda Kotabaru Ikuti Pelatihan Kepemimpinan dan Digitalisasi Usaha di Tanah Bumbu
- Disparpora dan IOSKI Kotabaru Gelar Pelatihan SKJ 2022 dan SAIH untuk Guru PJOK
- Polda Kalsel Ungkap 128,7 Kilogram Sabu, Pemprov Apresiasi Kinerja Aparat
OPINI - Negeri Yang Stres Lagi Depresi?
.jpg)
Keterangan Gambar : ?Oleh: Noorhalis Majid, Penulis dan pengamat kebijakan publik Kalsel.
Oleh: Noorhalis Majid
Sudah dengar cerita tragis remaja 18 tahun di Deli Serdang, dibakar hidup-hidup hanya karena mencuri 2 karung ubi? Mencuri memang tidak bolah, tapi kenapa dihakimi demikian sadis? Kenapa yang mencuri trilyunan uang negara tidak diperlakukan sesadis itu?
Baca Lainnya :
- Pemkab Kotabaru Gelar Sosialisasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial0
- Jembatan Gapura Saijaan Di Kampung Nelayan Kotabaru, Tongkrongan Anak Muda Melepas Penat0
Hanya orang miskin ektrim yang akan mencuri 2 karung ubi. Boleh jadi karena terdesak lapar. Sebab mencuri 2 karung ubi, tidak akan membuat kaya.
Pertanda apa ini? Apakah negeri ini sedang stres lagi depresi? Kenapa sampai ada yang miskin ektrim hingga harus mencuri? Dimana tugas negara yang berjanji memelihara orang miskin? Untuk siapa kekayaan alam yang telah dieksploitasi secara gegap gempita itu? Hilangkah kedermawanan sosial sesama warga, sampai tega membakar hidup-hidup saudaranya yang mencuri karena miskin?
Di lain sisi kita juga menyaksikan, pemerintah yang pongah menaikkan pajak dan retribusi sesuka hati. Setelah pajak dan retribusi warga dipugut, lantas hasilnya dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak penting. Bahkan untuk berpoya-poya dan dikorupsi.
Keberadaan pemerintahan, ternyata bukan untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru menciptakan kesengsaraan dan penderitaan warga.
Di tengah sulitnya warga mencari penghidupan, bukan justru dibantu dan difasilitasi, tapi malah dibebani dengan kenaikan pajak dan retribusi yang berlapis-lapis.
Warga miskin berjibaku dengan kehidupan yang penuh beban, tapi pejabat pemerintahan asyik main tik tok, mabuk Instagram, naik mobil mewah, hidup berkecukupan dengan fasilitas negara.
Apakah ini buah dari Pemilu yang manipulatif? Dimana kepala daerah yang terpilih bukan saja tidak pintar dan tidak kreatif, tapi juga tidak peduli, tidak punya sensitivitas, kepekaan dan keberpihakan pada warga tumpul. Yang terpilih orang-orang pongah - sombong, yang menakar demokrasi hanya dari kemampuan menyuap warga miskin saat Pemilu. Setelah terpilih bukannya bekerja untuk membangun kesejahteraan bersama, tapi justru membebani warga.
Tulisan pendek ini lebih banyak mengajukan pertanyaan, mudah-mudahan dengan pertanyaan itu mampu memperbaiki segala niat, terutama niat dalam bernegara, berpemerintahan, bahwa sesungguhnya negara dan pemerintahan ini dibentuk dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesejahteraan umum. Bukan kesejahteraan orang perorang, apalagi hanya untuk para pejabatnya saja. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita KALSEL












