- HUT ke-76 Kotabaru, Suwandi Berharap Peringatan Hari Jadi Jangan Hanya Seremonial
- Suwanti Pimpin Rapat Paripurna Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kotabaru ke-76
- Wisatawan Tanah Bumbu Terkesan Keindahan dan Kebersihan Hutan Meranti Kotabaru
- Wisata Hutan Meranti Siapkan Diri Sambut Wisatawan di HUT ke-76 Kotabaru
- Bupati Rusli Buka Saijaan Expo 2026, Ratusan Stand Semarakkan Siring Laut
- HUT ke-76 Kotabaru, Menko Bidang Pangan Puji Pemkab Soal Pengelolaan Lingkungan di Bumi Saijaan
- Bupati Rusli Hadiri Rapat Paripurna DPRD Dalam Rangka HUT Kotabaru ke-76
- Bupati Rusli Letakkan Batu Pertama Pembangunan 4 Kantor di Sebelimbingan
- Bupati Kotabaru Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila dan Harjad Kotabaru 2026
- Bupati Rusli Paparkan Potensi Sektor Pertanian Kotabaru ke Wamenko Bidang Pangan RI
Kasus Kekerasan Perempuan Online Meningkat, Pemerintah Perketat Pengawasan Platform Digital

Keterangan Gambar : Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat melakukan audiensi dengan Komnas Perempuan menekankan bahwa pemerintah memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi jika konten atau aktivitas di _platform_ dinilai membahayakan publik.
Jakarta, Borneopos.com - Kasus kekerasan terhadap perempuan di ruang digital terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan rata-rata sekitar 2.000 laporan setiap tahun. Bentuk yang paling dominan adalah kekerasan seksual online, yang dalam kajian terbaru mencapai lebih dari 1.600 kasus.
Baca Lainnya :
- BPJS Kesehatan Hadirkan Layanan 24 Jam via Chat, Tanpa Antri dan Batas Waktu0
- Pemerintah Buka 35 Ribu Lowongan Pekerjaan untuk Pengelola KDMP dan KNMP0
Situasi ini mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap platform digital, sekaligus memastikan setiap penyelenggara sistem elektronik menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan pengguna.
Dalam audiensi dengan Komnas Perempuan, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan bahwa ruang digital tidak boleh menjadi tempat yang membiarkan kekerasan berlangsung tanpa respons.
“Ketika kejahatan itu terjadi di platform, itu rumah mereka. Artinya yang melakukan penanganan di dalam adalah mereka. Kami tidak bisa masuk kecuali dengan kewenangan tertentu,” ujarnya di Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan pemerintah memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi jika konten atau aktivitas di platform dinilai membahayakan publik.
“Kalau memang membahayakan sekali, kami bisa kenakan sanksi sampai pada penutupan. Mereka harus bertanggung jawab karena itu ranah mereka,” tegasnya.
Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor menyatakan tingginya laporan kasus kekerasan seksual online belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.
“Keterbatasan infrastruktur dan layanan penanganan di sejumlah wilayah, khususnya daerah kepulauan dan 3T, turut menghambat korban dalam mengakses bantuan, termasuk untuk pelaporan dan pendampingan hukum maupun psikologis,” jelasnya.
Komnas Perempuan menyambut baik kolaborasi dengan Kementerian Komdigi untuk memperkuat langkah penanganan konten berbahaya melalui mekanisme pemutusan akses (take down), termasuk untuk konten kekerasan seksual dan eksploitasi.
“Kondisi ini membutuhkan langkah bersama, termasuk peningkatan tanggung jawab platform digital dalam menjaga ruang aman bagi pengguna, khususnya perempuan dan kelompok rentan,” ungkapnya.
Kolaborasi juga diarahkan untuk penguatan literasi digital, kampanye publik, serta penyusunan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.(red/mcIP)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250

.jpg)
1.jpg)











