- Bupati Rusli Sambangi Balai KSDA Kalsel, Bahas Soal Pengembangan Pelabuhan di Kotabaru
- Perkuat Keberagaman, Koalisi Beragama Berkeyakinan Gelar Seminar Nasional di Banjarmasin
- Uji Publik Roadmap Geopark di Kotabaru, Sejumlah Obyek Wisata Masuk Daftar
- Gubernur Kalsel Terima Penghargaan Adhi Bhakti Tani Nelayan Utama 2026
- Disparpora Kotabaru Lestarikan Budaya Suku Mandar Lewat Festival Katir Race Mini dan Pesta Rakyat
- Ditengah Terik Musim Kemarau, Bangunan Eks PT. Misaya Mitra Kotabaru Diamuk Sijago Merah
- Karhutla Dekati Ring 1 Bandara Syamsudin Noor, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api
- BPKAD Kotabaru Gelar Sosialisasi Perda Tentang Pengelolaan BMD dan Bimtek E-BMD
- Pemprov Kalsel dan MUI Bersinergi, Dorong Penguatan Kerukunan Umat di Banua
- Api Masih Membara di Bawah Gambut, Muhidin Bagi Tugas Satgas Agar Lebih Terarah
Calap Pasang Dalam, Menuju Lamas Sa-alamanan

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid
Oleh: Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
- Persoalan Tanah, Ayah dan Anak Kompak Aniaya Korban Hingga Tewas Di Pangururan 0
- Kur Sumangat, 31 Tahun LK30
Banjarmasin, Borneo Pos - Tidak ada kosa kata banjir dalam kebudayaan Banjar, yang ada hanya “calap”, yang tinggi airnya tidak lebih semata kaki. Kalau pun lebih dari itu yang disebabkan rob, maka orang Banjar menyebutnya “calap pasang dalam”, dimana saat purnama besar tiba, air sesekali menggenangi lantai dapur atau pekarangan rumah, terutama yang tinggal di pinggir Sungai.
Sekarang kondisinya tentu jauh berbeda. Perubahan iklim sangat berdampak bagi Banjarmasin, yang geografisnya memang di bawah permukaan laut. Kota ini dibentuk secara alami dari delta-delta yang kemudian menjadi daratan.
Sungai, anjir, handil, dan saka, suatu kearifan cerdas pengendali apabila rob datang. Rumah-rumah dibangun berbentuk panggung, tidak menghilangkan fungsi rawa dan gambut sebagai resapan air.
Kemudian, budaya sungai tiba-tiba berubah berorientasi darat. Rawa dan bahkan sungai, diurug - ditinggikan dengan tanah, jadi jalan dan tanah lapang. Bangunan rumah tidak lagi panggung, namun “balapak” di tanah, karena rawanya ditutupi dengan cor semen.
Sungai jadi belakang rumah, hilang sama sekali menjadi dapur-dapur yang “bersatu padu”. Sungai jadi selokan, selokannya dibuat sekedar ada, sahibar proyek tahunan yang tambal sulam.
Sekalipun tidak ada Perda sungai, Perda rumah panggung dan Perda lainnya. Orang Banjar dulu hidup dengan kebudayaan sungai, sehingga sangat paham soal rob, soal calap pasang dalam, soal fungsi rawa, gambut, anjir, handil dan saka. Dengan kearifan itu, tidak pernah panik menghadapi air, sebab kebudayaannya memang berbasis sungai.
Sekarang, ketika semua orientasi menjadi “darat”, termasuk orientasi Pemko dalam membangun kota sangat berorientasi darat.
Maka jangan salahkan bila setiap tahun panik menghadapi rob – calap pasang dalam. Kalau orientasi darat diteruskan, maka tidak mustahil sebagai mana perkiraan banyak pakar, 2050 Banjarmasin tenggelam.
Tidak ada pilihan, kecuali Pemko mengalihkan orientasinya kembali kepada sungai, sebagaimana kebudayaan Banjar mengajarkan banyak hal tentang itu. Mulai dengan menggiatkan kembali normalisasi sungai, mendisiplinkan Perda rumah panggung – di mulai dari rumah dinas walikota, meminta restu pemerintah pusat agar Dinas Sungai dibolehkan, sebab Banjarmasin kota unik, letaknya di bawah permukaan laut, sangat membutuhkan satu institusi yang khusus menangani kelestarian sungai, agar kada “lamas sa-alaman”. (nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- 35 Anggota DPRD Kotabaru Periode 2024-2029 Resmi Dilantik0














