Breaking News
- Pemkab Kotabaru Sapa Jamaah Haji, melalui Live Info Haji
- Tampil memukau, Kontingen Kotabaru ikuti Pawai Taaruf MTQ Nasional ke-37 tingkat Kalsel
- Wujudkan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan, Pemkab Kotabaru gelar seminar Regional se - KalSel
- Indocement Tarjun Latih Karyawan dan Stakeholder Terkait Penyelamatan di Ruang Terbatas
- Perenang Muda Kalsel Sabet Dua Medali di A-Stream Open Water Swimming Bali 2026
- Ratusan Gamer Ramaikan Axis Cup 2026, ESI Kalsel Dorong Regenerasi Atlet Esports
- 516 Siswa RA-MI Maarif NU Kalsel Diwisuda, Gubernur Kalsel Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter
- Lokakarya Tari Topeng Srikandi Jadi Upaya Taman Budaya Kalsel Revitalisasi Topeng Banjar
- RSUD Ulin Perkuat Transformasi Pelayanan Kesehatan Lewat Forum Konsultasi Publik
- Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dilaksanakan di Kotabaru
Atasi Abrasi Di Tanjung Pangga, Dinas LH Kotabaru Tanam 10 Ribu Mangrove

Keterangan Gambar : Penanaman mangrove di pesisir Desa Tanjung Pangga, Kec Kelumpang Selatan, Kotabaru
Kotabaru, borneopos - Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru melaksanakan penanaman mangrove dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Rabu (5/6/2024) di pesisir Desa Tanjung Pangga, Kecamatan Kelumpang Selatan.
DLH Kotabaru menggandeng Forkopimcam, Kades, BPD, Babinsa, Babinkamtibmas, perusahaan, siswa dan guru sekolah, kelompok tani Harapan Bersama
serta warga masyarakat mencanangkan menanam 10 ribu bibit mengrove di Tahun 2024.
Dalam sambutan tertulisnya, kepala DLH Kotabaru M. Maulidiansyah menyampaikan :
Krisis iklim menjadi isu lingkungan yang saat ini marak dibahas karena dialami hampir oleh seluruh Masyarakat di dunia.
Salah satunya adalah peningkatan suhu rata-rata bumi yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca. Belum lagi penggunaan bahan bakar fosil dan kurang bijaknya pemanfaatan sumber daya alam menjadi faktor pemicu terjadi pemanasan global.
Konsekuensi dari perubahan iklim yang kita rasakan saat ini antara lain, kekeringan hebat, kelangkaan air, kebakaran hebat, naiknya permukaan air laut, banjir, pencairan es kutub, badai dahsyat dan penurunan keanekaragaman hayati.
Kita sebagai generasi penerus wajib ambil bagian dalam menjaga, memperbaiki dan melestarikan lingkungan.
Salah satu Upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Pentingnya ekosistem pesisir khususnya mangrove adalah sebagai penyangga karena dapat mengurangi ketinggian gelombang air laut,
meminimalisir resiko banjir, mampu menyerap karbon 5x lebih baik dari hutan hujan tropis dan mangrove mampu menyimpan 1/3 stok karbon pesisir secara global.
Terlebih wilayah Kabupaten Kotabaru 78% nya merupakan kawasan pesisir.
Hal ini yang melatar belakangi munculnya program
Mangrove for Banua.
Program ini merupakan program rutin yang sudah berjalan selama 4 tahun. Selama 3 tahun ini kami memang memfokuskan pada perbaikan ekosistem pesisir mengingat wilayah pesisir memiliki sumbangsih besar terhadap Cadangan karbon, produksi oksigen, hingga pelestarian tempat hidup biota laut.
Berkaca dari hasil penanaman di tahun 2023, Tahun pertama kita menanam 5000 bibit, yang setelah 1 tahun kita cek, kita monitoring alhamdulillah Tingkat keberhasilannya >50% bibitnya hidup dengan baik.
Di tahun ini kita melanjutkan langkah baik yang sudah dimulai dengan melakukan kerjasama dalam “Kolaborasi Mitigasi Pengendalian Pesisir Dengan Penanaman 10.000 Bibit Mangrove di pesisir Desa Tanjung Pangga, Kecamatan Kelumpang Selatan.
Aksi lingkungan ini mengajak seluruh pihak baik pemerintah daerah, instansi teknis terkait, pelaku usaha, sekolah dan Masyarakat.
Keberhasilan program Mangrove for Banua ini tentunya tidak terlepas dari usaha dan semangat seluruh pihak.
Terutama rekan-rekan kelompok tani Harapan Bersama dan warga Desa Tanjung Pangga yang juga menjaga ekosistem mangrove kita.
Alhamdulillah juga program tahun ini dapat terlaksana bersamaan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang mana aksi yang kita laksanakan hari ini menujukkan bahwa kita terutama yang berhadir pada hari ini masih peduli terhadap perbaikan lingkungan.
peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang mengusung tema “Penyelesaian Krisis Iklim dengan Inovasi dan Prinsip Keadilan”.
menjadi pengingat sekaligus ajakan bahwa penyelesaian akar masalah krisis iklim harus
diselesaikan dengan inovasi yang dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan dengan mengedepankan prinsip keadilan dan inklusivitas.
Prinsip keadilan yang dimaksud, menekankan pada manfaat dari pemulihan lahan harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, terutama yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim itu sendiri. (rls/red*)


Baca Lainnya :
Semua Artikel dari kategori ini
Berita Lingkungan
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments


.jpg)











