- KPK OTT Bupati Rejang Lebong! Diduga Terima Fee Proyek
- RSUD Ulin Bantu Biaya Kesehatan Warga Miskin Melalui Dana Pendamping
- PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Syamsudin Noor Salurkan Bantuan Ke Warga Sekitar
- Pemprov Kalsel Gelar Buka Puasa Bersama, Gubernur Muhidin Tekankan Efektivitas Kinerja SKPD
- Tingkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat, Bupati Kotabaru Resmikan Lima Puskesmas
- Pemkab Kotabaru Perkuat Silaturahmi dengan masyarakat melalui safari Ramadhan
- Kapolda Kalsel Resmikan Marnit Patroli Bangkau *Sanika Satyawada* Kabupataren HSS
- Pelindo Kotabaru Tebar Bantuan Ramadhan 1447 H ke Warga Sekitar Pelabuhan dan TKBM
- Wabup Kottabaru Syairi Hadiri Safari Ramadhan di Masjid Al Munawarah Sungai Kupang
- Sekda Kotabaru Hadiri Buka Puasa Bersama Prajurit Yonif TP 884/Sa-ijaan
Potret Penanganan Stunting Tahun 2025 di Kota Banjarbaru

Keterangan Gambar : Banner penangan stunting di Banjarbaru
Banjarbaru, Borneopos.com (4/12/2025) – Upaya penurunan stunting di Indonesia menghadapi dinamika yang kompleks, tercermin dari kontras antara capaian nasional dan tantangan yang masih signifikan di tingkat daerah.
Baca Lainnya :
- Pemeran Kepariwisataan Kotabaru di Banjarbaru, Kenalkan Potensi Pariwisata dan UMKM 0
- Lamban Dimulai, Proyek Multiyears Jembatan Semayap Senilai Rp. 9,2 M di Protes Warga0
Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu wilayah yang intensif melakukan intervensi, didukung oleh alokasi anggaran yang signifikan untuk penanganan gizi dan kesehatan ibu-anak.
Disparitas Data Lapangan: Waspada Kasus Stunting Parah
Berdasarkan data survei, prevalensi stunting masih menunjukkan perlunya perhatian serius. Data menunjukkan adanya kasus stunting yang parah.
Kategori Stunting (Berdasarkan Survei Lapangan)
Stunting Keseluruhan 13,5% dan Stunting Parah 1,9%, sementara itu, data pencatatan rutin berbasis Aplikasi sigizikesga di tingkat lapangan menunjukkan angka: 5,32% pada tahun 2024, yang kemudian meningkat menjadi 10,85% pada tahun 2025.
Anggaran Besar untuk Intervensi Komprehensif
Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru menunjukkan komitmen serius dalam menangani masalah ini, anggaran tahun 2024-2025 bagi Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi (Kesga & Gizi) mencapai Rp 5.521.967.300.
Anggaran ini dipergunakan untuk mendukung rangkaian kegiatan yang bersifat hulu (pencegahan) hingga hilir (penanganan kasus) seperti:
Pembelian Logistik Gizi: Untuk penanganan langsung.
Pangan Diet Khusus (PDK) & Syrup Besi: Dialokasikan untuk bayi dan balita yang kurus/anemia.
Pendampingan Tenaga Ahli: Melibatkan Spesialis Anak dan Spesialis Kandungan untuk mendampingi kasus risiko tinggi.
Edukasi & Sosialisasi: Kegiatan seperti Aksi Bergizi di Sekolah, Aksi Cegah Stunting, dan Gerakan Ibu Hamil Sehat.
Monitoring & Evaluasi: Termasuk Audit Kasus Kematian Ibu dan Bayi.
Fokus Banjarbaru: Kasus Landasan Ulin dan Faktor Lingkungan
Kepala Seksi Gizi Banjarbaru, Maulidah, menyoroti wilayah Landasan Ulin sebagai perhatian utama, yang mencatatkan angka stunting tertinggi hingga 26,85%. Hal ini dipicu oleh banyaknya pendatang yang sering berpindah-pindah dan tidak aktif ke Posyandu.
Maulidah menegaskan bahwa stunting adalah masalah multidimensi. "Yang pasti dipengaruhi oleh air minum, ekonomi, dan lingkungan sekitar." Ungkapnya.
Selanjutnya, Maulidah menggarisbawahi proporsi masalah: 30% kesehatan dan 70% keadaan lingkungan.
Untuk mengatasi masalah di Landasan Ulin yang lumayan tinggi, intervensi di Posyandu ditingkatkan pada tahun 2025 melalui pemberian PMT lokal dan edukasi.
Inovasi Penanganan Anemia dan Pernikahan Dini
Pemko Banjarbaru fokus pada pencegahan anemia sejak dini, yang menjadi akar masalah stunting.
Skrining Bayi Baru Lahir
Setiap bayi baru lahir menjalani Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) dan Pemeriksaan Defisiensi Anemia.
Bayi yang ditemukan rendah zat besi atau defisiensi anemia akan langsung diberikan Sirup Zat Besi Malcofer untuk meningkatkan nafsu makan saat memasuki masa MPASI (makanan pendamping ASI).
Penanganan dini sebelum 14 hari kelahiran sangat krusial agar kondisi bayi dapat kembali normal.
Kelas Ibu Hamil Intensif
Saat ini, setiap Puskesmas memiliki 4-5 kelas ibu hamil dengan 10-15 peserta per kelas.
Pernikahan Usia Dini
Faktor risiko lain di Banjarbaru adalah pernikahan belum sesuai umur, yang menyebabkan rahim ibu belum terbentuk sempurna dan lebih mudah terkena anemia. Edukasi mengenai pemeriksaan kehamilan lengkap (K1 sampai K6, dengan 2 kali wajib USG) terus didorong.
Mengakhiri penjelasannya, Maulidah berharap, dengan dukungan anggaran dan berbagai program intervensi, akan terjalin kerja sama yang solid antara petugas Puskesmas dan kesadaran aktif dari masyarakat, khususnya ibu hamil, untuk memantau kesehatan mereka secara rutin. (red/nita)

Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita KALSEL











