Potret Penanganan Stunting Tahun 2025 di Kota Banjarbaru

Reported By Pimred Borneo Pos 05 Des 2025, 21:41:18 WIB KALSEL
Potret Penanganan Stunting Tahun 2025 di Kota Banjarbaru

Keterangan Gambar : Banner penangan stunting di Banjarbaru



Banjarbaru, Borneopos.com (4/12/2025) – Upaya penurunan stunting di Indonesia menghadapi dinamika yang kompleks, tercermin dari kontras antara capaian nasional dan tantangan yang masih signifikan di tingkat daerah.


Baca Lainnya :

Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu wilayah yang intensif melakukan intervensi, didukung oleh alokasi anggaran yang signifikan untuk penanganan gizi dan kesehatan ibu-anak.


Disparitas Data Lapangan: Waspada Kasus Stunting Parah


Berdasarkan data survei, prevalensi stunting masih menunjukkan perlunya perhatian serius. Data menunjukkan adanya kasus stunting yang parah.


Kategori Stunting (Berdasarkan Survei Lapangan)


Stunting Keseluruhan 13,5% dan Stunting Parah 1,9%, sementara itu, data pencatatan rutin berbasis Aplikasi sigizikesga di tingkat lapangan menunjukkan angka: 5,32% pada tahun 2024, yang kemudian meningkat menjadi 10,85% pada tahun 2025.


Anggaran Besar untuk Intervensi Komprehensif


Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru menunjukkan komitmen serius dalam menangani masalah ini, anggaran tahun 2024-2025 bagi Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi (Kesga & Gizi) mencapai Rp 5.521.967.300.


Anggaran ini dipergunakan untuk mendukung rangkaian kegiatan yang bersifat hulu (pencegahan) hingga hilir (penanganan kasus) seperti:


Pembelian Logistik Gizi: Untuk penanganan langsung.


Pangan Diet Khusus (PDK) & Syrup Besi: Dialokasikan untuk bayi dan balita yang kurus/anemia.


Pendampingan Tenaga Ahli: Melibatkan Spesialis Anak dan Spesialis Kandungan untuk mendampingi kasus risiko tinggi.


Edukasi & Sosialisasi: Kegiatan seperti Aksi Bergizi di Sekolah, Aksi Cegah Stunting, dan Gerakan Ibu Hamil Sehat.


Monitoring & Evaluasi: Termasuk Audit Kasus Kematian Ibu dan Bayi.


Fokus Banjarbaru: Kasus Landasan Ulin dan Faktor Lingkungan


Kepala Seksi Gizi Banjarbaru, Maulidah, menyoroti wilayah Landasan Ulin sebagai perhatian utama, yang mencatatkan angka stunting tertinggi hingga 26,85%. Hal ini dipicu oleh banyaknya pendatang yang sering berpindah-pindah dan tidak aktif ke Posyandu.


Maulidah menegaskan bahwa stunting adalah masalah multidimensi. "Yang pasti dipengaruhi oleh air minum, ekonomi, dan lingkungan sekitar." Ungkapnya.


Selanjutnya, Maulidah menggarisbawahi proporsi masalah: 30% kesehatan dan 70% keadaan lingkungan.


Untuk mengatasi masalah di Landasan Ulin yang lumayan tinggi, intervensi di Posyandu ditingkatkan pada tahun 2025 melalui pemberian PMT lokal dan edukasi.


Inovasi Penanganan Anemia dan Pernikahan Dini


Pemko Banjarbaru fokus pada pencegahan anemia sejak dini, yang menjadi akar masalah stunting.


Skrining Bayi Baru Lahir


Setiap bayi baru lahir menjalani Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) dan Pemeriksaan Defisiensi Anemia. 


Bayi yang ditemukan rendah zat besi atau defisiensi anemia akan langsung diberikan Sirup Zat Besi Malcofer untuk meningkatkan nafsu makan saat memasuki masa MPASI (makanan pendamping ASI). 


Penanganan dini sebelum 14 hari kelahiran sangat krusial agar kondisi bayi dapat kembali normal.


Kelas Ibu Hamil Intensif


Saat ini, setiap Puskesmas memiliki 4-5 kelas ibu hamil dengan 10-15 peserta per kelas.


Pernikahan Usia Dini


Faktor risiko lain di Banjarbaru adalah pernikahan belum sesuai umur, yang menyebabkan rahim ibu belum terbentuk sempurna dan lebih mudah terkena anemia. Edukasi mengenai pemeriksaan kehamilan lengkap (K1 sampai K6, dengan 2 kali wajib USG) terus didorong.


Mengakhiri penjelasannya, Maulidah berharap, dengan dukungan anggaran dan berbagai program intervensi, akan terjalin kerja sama yang solid antara petugas Puskesmas dan kesadaran aktif dari masyarakat, khususnya ibu hamil, untuk memantau kesehatan mereka secara rutin. (red/nita)





Baca Lainnya :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment