- Byar Pret! Byar Pret! LBH Borneo Nusantara Resmi Gugat PLN di PTUN Banjarmasin
- Pelindo Kotabaru Perkuat Sinergi Maritim, Dukung Open Ship KRI Banjarmasin-592 di Pelabuhan Stagen
- Menko Polkam Apresiasi Penanganan Karhutla di Kalsel, BPBD Perkuat Lima Posko Lapangan
- Menko Polkam Optimistis Karhutla Kalsel Terkendali, Tekankan Sinergi dan Kepedulian Masyarakat
- Hasnuryadi Sulaiman: Sinergi Kuat Banua Hebat Jadi Fondasi Pembangunan dan Keamanan Kalsel
- FKG ULM Selaraskan Persepsi Instruktur Klinik melalui Workshop Clinical Teaching Berbasis OBE
- Ratusan Pesepakbola Ikut Seleksi Pembentukan Tim Peseban Jelang Piala Soeratin U-17 Kalsel
- Puluhan Warga Rantau Bakula Geruduk PT Merge Mining Industri Tuntut Hentikan Operasi
- Pemkab Kotabaru Resmi Tutup Turnamen Voli Perwosi Cup I 2026
- DPRD Kotabaru Komitmen Dukung Pembinaan Atlet Voli Lewat Perwosi Cup I 2026
Kolom | Dilema Narkoba

Keterangan Gambar : Noorhalis Majid, penulis buku dan pemerhati kebijakan publik, Senin (6/1/25).
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneo Pos -- Tidak ada yang menyangkal, semua berkomitmen dalam pemberantasan narkoba. Tapi kenapa narkoba tidak pernah surut? Kasusnya selalu mencengangkan, karena banyak pihak yang mestinya berkomitmen memberantas, nyatanya memelihara dan beroleh keuntungan dari nakoba.
Baca Lainnya :
- Awalnya Diduga Pelaku Pencurian, Ujungnya AW Diciduk Tim Polsek Sungai Pinang Lantaran Bawa Sabu0
- Polres Samosir Tingkatkan Pengamanan Liburan Tahun Baru 20250
Dialog sore itu di sebuah hotel di pinggiran Sungai Martapura, dihadiri para aktivis dan media masa, bagian dari kepedulian masyarakat sipil atas fenomena publik yang tak berkesudahan. Akhirnya lebih banyak membicarakan hal dan soal yang menjadi dilema dalam penanganan narkoba.
Antara lain, maksud hati ingin mensejahterahkan warga dengan eksploitasi sumber daya alam – karena hanya itu yang mampu dilakukan. Nyatanya aktivitas tersebut justru mengundang maraknya hiburan malam, prostitusi dan lalu narkoba.
Maunya ingin memajukan daerah melalui pariwisata, nyatanya juga mengundang bertumbuhnya hiburan malam, prostitusi dan lantas narkoba.
Katanya melindungi warga, nyatanya lebih suka “pemenjaraan” dari pada direhabilitasi. Mestinya jumlah yang direhabilitasi lebih tinggi angkanya, nyatanya yang dipenjara dan berstatus sebagai pengedar jumlahnya jauh lebih banyak. Mungkinkah penjual lebih banyak dari pembeli?
Katanya warga harus diselamatkan dari bahaya narkoba, nyatanya pusat-pusat rehabilitasi tidak kunjung dibangun. Katannya perang besar terhadap narkoba, buktinya enggan menyatakan darurat narkoba.
Giat penangkapan lebih dianggap prestasi dari pada pencegahan. Padahal bila sadar bahwa yang disasar kejahatan narkoba adalah generasi muda, maka pemenjaraan bukanlah solusi. Perspektif generasi muda sebagai korban, harus dipertajam, sehingga lebih banyak upaya penyelamatan dari pada hukuman.
Mestinya lebih banyak giat yang bertujuan memfasilitasi peningkatan prestasi generasi muda, termasuk oleh Kepolisian. Misalnya diselenggarakan Kapolda Cup hingga Kaplres Cup, dalam berbagai jenis olahraga dan kesenian. Bila anak muda dialihkan perhatiannya pada olahraga dan kesenian, maka pikirannya menjadi positif dan narkoba semakin menjauh.
Sayangnya semua serba dilema, karena narkoba juga potensial sebagai jembatan dalam mengejar kekayaan dan karir. Terbukti banyak yang dijebak hanya untuk memuluskan karir dan prestasi. Dan pengeder dipelihara semaikin gemuk, sebab mendatangkan cuan dan terkait langsung dengan eksploitasi sumber daya alam. (*red/nm)
Baca Lainnya :
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
- Jembatan Pulau Laut Dilanjut, Anggaran 2024 APBD Kalsel 295 M Dan Kotabaru 100 M, Pelaksana Asri-Pra0














