- Fun Walk HUT ke-76 Kotabaru Meriah, Ribuan Warga Ikuti Jalan Sehat
- Suwanti Pantau Program Tukar Sampah Plastik jadi Sembako di DLH pada HUT Kotabaru ke-76
- Diskusi Ambin Demokrasi: Fenomena *Kodok Rebus* Diam Terpaku Atas Penindasan
- Target Lima Besar, Strategi Realistis Kotabaru di Popda Kalsel 2026
- Bupati Kotabaru Kunjungi Desa Wisata Teluk Tamiyang, Lakukan Peninjauan Fasilitas Wisata
- Dinas Pariwisata Kalsel Fokus Tingkatkan Kunjungan Wisatawan melalui Destinasi Unggulan
- Penyaluran KUR di Kalsel Capai Rp1,81 Triliun, Sektor Pertanian Dominasi Penerima
- Kinerja Fiskal Kalsel Tunjukkan Tren Positif, Belanja Modal Melonjak Hampir 194 Persen
- Ekonomi Kalsel Tumbuh Solid, DJPb Sebut Kinerja Fiskal dan Perdagangan Tetap Terjaga
- Lintasan Atletik Stadion 17 Mei Ditarget Selesai Akhir Juni, Kursi Stadion Diganti Total
Diskusi Ambin Demokrasi: Fenomena *Kodok Rebus* Diam Terpaku Atas Penindasan

Keterangan Gambar : ?Diskusi Ambin Demokrasi, Sabtu (30/5/2026).
Kalsel, Borneopos.com - Hari-hari ini, di sekitar kepemimpinan Kalsel, ada banyak berita yang mengabarkan sejumlah masalah, termasuk soal etik dan moral. Ada berita tentang sabu, selingkuh, korupsi, gaya hedon para pejabat, perjalanan ke luar negeri sambung puting, dan kabar saling tikam dengan berbagai isu suksesi. Isu-isu nasional, seakan berkelindan dengan isu-isu lokal. Bahkan film pesta babi yang viral, seperti sindiran tentang kedukaan yang sama akan rusaknya ekologi di Kalsel dan berbuah bencana.
Baca Lainnya :
- Target Lima Besar, Strategi Realistis Kotabaru di Popda Kalsel 20260
- Bupati Kotabaru Kunjungi Desa Wisata Teluk Tamiyang, Lakukan Peninjauan Fasilitas Wisata0
Masih adakah harapan? Apa peran kelompok masyarakat sipil dan bagaimana mengkonsolidasikan dengan kelompok kritis lainnya? Hadir sebagai pemantik dalam diskusi Ambin Demokrasi, Sabtu (30/5/2026) di Rumah Alam Sungai Andai, IBG Dharma Putra (Mantan Birokrat), Dr Nasrullah (Akademisi Fisip ULM) dan Isra Ramli (warga banua di perantauan yang lama bekerja sebagai Konsultan Politik di Jakarta).
Turut hadir sejumlah tokoh, akademisi dan aktivis. Seperti biasa, diskusi berjalan seru, apalagi sejumlah isu yang diangkat sangat aktual, menjadi kegelisahan kolektif warga, tentang situasi yang oleh Dr Nasrullah, meminjam sejumlah pendapat para ahli, disebut “tidak baik-baik saja”.
IBG Dharma Putra, mengawali pantikannya dengan mengatakan bahwa segala lini kehidupan kita sekarang ini, seperti kehilangan maruah. Maruah itu artinya harga diri, pengaruh, wibawa, yang lahir dari integritas dan nama baik yang terpelihara. Maruah negara, pemerintah, para tokoh, agamawan, termasuk warga negaranya sendiri, seperti sedang keropos.
Money politik yang begitu massif, menggambarkan bahwa warga sedang sakit dan kehilangan maruahnya. Sakitnya warga yang memberi pengaruh pada demokrasi elektoral, berdampak luas pada runtuhnya maruah institusi-institusi demokrasi, termasuk maruah para pimpinan, dari pusat hingga daerah.
Sementara itu Dr Nasrullah menyoroti kegagapan pemimpin dalam menempatkan dirinya. Para pemimpin sekarang ini nampak gagap, dia menjadi narator sekaligus aktor. Sejumlah masalah yang datang bertubi-tubi dan sebenarnya gambaran persoalan serius, disikapi dengan biasa-biasa saja, bahkan tidak ada kepedulian untuk menyikapinya. Keadaan ini seperti memberi isyarat, jangan-jangan sensor dan kepekaan kelompok kritis telah rusak.
Fenomena “kodok rebus”, seperti sedang terjadi. Separah apapun kondisi yang terjadi, nyatanya tidak ada yang menyuarakan. Akademisi hanya muncul bersuara, ketika saat debat kepala daerah, karena pada saat itu suaranya dibayar. Di luar dari pada itu, akademisi enggan bersuara karena tidak ada bayaran untuk menyuarakan suara-suara kritis.
Isra Ramli, orang Banjar yang lama tinggal di perantauan, melihat Kalsel sebagai tempat penindasan. Setidaknya ada 3 bentuk penindasan yang sedang terjadi. Pertama, penindasan dalam bentuk eksploitasi. Berbagai rupa eksploitasi terjadi di Kalsel. Dengan kepemimpinan yang lemah, inkompeten dan korup, maka eksploitasi semakin menjadi-jadi. Buah dari eksploitasi hanyalah penderitaan dan kemiskinan.
Kedua, penindasan oleh pelaku bisnis yang brutal. Karena brutal, tidak peduli alam hancur, rakyat menderita dan daerah semakin miskin. Anehnya, pelaku bisnis yang brutal, dan sudah merusak alam serta tatanan kehidupan ini justru dipuja sebagai pemenang. Semua orang lantas mengidap penyakit pragmatisme dan sekaligus materiaslisme. Suka memuja orang kaya, entah dengan cara apa kekayaan didapat, dan berharap mendapat kebaikan dari orang kaya tersebut.
Ketiga, telah terjadi penindasan budaya. Warga banua menjadi kelompok imperior di kampungnya sendiri. Kalah, miskin, bahkan mengemis di rumah sendiri. Telah terjadi invasi budaya luar dan mengalahkan budaya Banjar itu sendiri. Termasuk mengalahkan orang Banjar dalam berbagai kompetisi dan perebutan jabatan politik serta birokrasi.
Apakah penindasan ini dapat dilawan? mestinya dapat, asal elit banua dan kelompok masyarakat sipil bersatu. Sayangnya elit susah bersatu, karena takut kehilangan kedudukan dan jabatan. Padahal, dengan segala eksploitasi yang sudah dilakukan sejak lama dan begitu rupa, Kalsel sama sekali tidak dapat apa-apa, kecuali kehancuran. Sayangnya situasi ini tidak menumbukan kesadaran, yang terjadi hanya pragmatisme dan materialisme yang semakin akut.
Bagaimana dengan politik elektoral? Sejauh demokrasinya berjalan dengan cara yang busuk, maka yang terpilih pasti para bajingan. Politik tidak memerlukan kepakaran, yang dibutuhkan hanya kalkulasi akuntansi, bayar berapa dapatnya apa.
Para tokoh, akademisi dan aktivis yang hadir sore itu, dimoderatori Noorhalis Majid, bergantian memberikan berbagai analisa terhadap situasi sosial politik yang sedang terjadi. Ada yang mengatakan, ini akibat kecepatan arus informasi dan perubahan zaman yang begitu dahsyat, tidak dibarengi pemahaman dan pengetahuan yang cukup untuk menyaringnya. Sehingga yang terjadi, kecepatan justru berkolaborasi dengan kedangkalan dan banalitas, bukan kemajuan yang didapat, malah kemunduran peradaban.
Harapan tentu masih ada, terutama bila forum-forum diskusi pencerahan terus dilakukan. Sehingga semua cepat menyadari situasi hari ini, layaknya “kodok rebus”, bukannya hanya diam terpaku, tapi segera melompat bangkit, melakukan perlawanan. (red/nm)


Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250




.jpg)
.jpg)






