- Disdag Kalsel Gelar FGD Fasilitasi Penerbitan SKA
- Menhub Lepas Kloter Perdana Haji 2026
- Bareskrim Tetapkan Bandar Narkoba Masuk DPO
- Komdigi Dorong Media Angkat Kisah Koperasi Desa
- Gubernur Kalsel Hadiri Pemusnahan Uang Palsu
- Pengurus MUI Kalsel 2026–2031 Dikukuhkan, Wagub Kalsel Tekankan Penguatan Pendidikan Berakhlak
- Antisipasi Kemarau 2026, BPTPH Kalsel Perkuat Pengendalian Hama dan Irigasi
- Rakernis Dispora Kalsel Perkuat Sinergi Daerah, Fokus Pembinaan Berkelanjutan
- Seleksi Paskibraka Kalsel 2026 Diikuti 90 Peserta, Bakesbangpol: Proses Transparan
- BMKG Rilis Prospek Cuaca Mingguan Kalsel, Waspadai Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang
Antisipasi Kemarau 2026, BPTPH Kalsel Perkuat Pengendalian Hama dan Irigasi

Keterangan Gambar : Menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang pada tahun 2026, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan mengambil langkah strategis guna menjaga produktivitas sektor pertanian.
Kalsel, Borneopos.com - Menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang pada tahun 2026, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan mengambil langkah strategis guna menjaga produktivitas sektor pertanian.
Baca Lainnya :
- Rakernis Dispora Kalsel Perkuat Sinergi Daerah, Fokus Pembinaan Berkelanjutan0
- Seleksi Paskibraka Kalsel 2026 Diikuti 90 Peserta, Bakesbangpol: Proses Transparan0
Kepala BPTPH Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya antisipasi, mulai dari sosialisasi kepada petugas lapangan hingga koordinasi lintas sektor.
“Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi sejak awal Mei dengan puncaknya pada Agustus hingga September. Namun, pola musim di Kalimantan Selatan berbeda-beda sesuai zona masing-masing,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Sebagai langkah awal, BPTPH telah mensosialisasikan informasi tersebut kepada Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan. Selain itu, surat peringatan juga telah disampaikan kepada seluruh jajaran terkait, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan.
Dalam menghadapi keterbatasan air, petani didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang tersedia, seperti penggunaan pompa dan saluran irigasi yang masih aktif.
Selain itu, petani juga dianjurkan menanam varietas tanaman yang toleran terhadap kekeringan serta berumur genjah, yakni sekitar 100 hari sudah dapat dipanen.
“Pemilihan varietas menjadi kunci penting agar petani tetap bisa berproduksi di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu,” ungkap Lestari.
Tidak hanya itu, BPTPH juga mengantisipasi peningkatan serangan hama yang kerap terjadi saat musim kemarau. Untuk itu, koordinasi intensif dilakukan dengan dinas pertanian kabupaten/kota, POPT, serta penyuluh pertanian guna memastikan kesiapan langkah pengendalian.
Berdasarkan hasil pengamatan petugas di lapangan, jenis hama yang muncul akan berbeda di setiap wilayah. Oleh karena itu, penyediaan pestisida dilakukan secara spesifik sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
“Stok bahan pengendali sudah kami siapkan dan distribusikan hingga ke tingkat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Dengan demikian, jika terjadi serangan hama, penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran,” jelasnya.
Melalui berbagai langkah antisipatif tersebut, BPTPH Kalimantan Selatan berharap dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian dapat diminimalisir, sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga.(red/mcksl)

Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250










