- DPKP Kalsel Terima Penghargaan Gubenur Soal Keterbukaan Informasi Publik
- HSS Peringkat Terbaik se Kalsel Pengelolaan Pengaduan LAPOR pada AMPK 2025
- Dinsos Provinsi Kalsel: Penggalangan Dana Untuk Bencana di Jalan Umum, Harus Ada Izin
- Sambut Agenda Rutin Akhir Tahun, DLH Kalsel Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan
- IPKD 2025 : Balangan, Tanah Laut dan HSS Jadi Daerah Terbaik di Kalsel
- Pelindo Kotabaru Siap Maksimalkan Pelayanan Nataru 2025-2026
- Gebyar Panutan Pajak Kendaraan Bermotor 2025, Wajib Pajak Teladan Terima Penghargaan
- LSM Ultimatum Kejati Kalsel: Tindak Korupsi dan Tambang Liar di Kotabaru
- Gabungan LSM Banua Geruduk Kejati Kalsel, Pertanyakan Kasus Mandek dan Tambang Ilegal
- Polda Kalsel Bantu Korban Bencana Alam di Aceh, Sumut dan Sumbar
Wabup Kotabaru: Wisata Hutan Meranti Akan Maju Kalau Penduduknya Ramah Terhadap Tamu
1.jpg)
Keterangan Gambar : Wabup Kotabaru saat du Hutan Meranti Kotabaru, Minggu (30/11/2025).
KOTABARU, Borneopos.com - Puncak acara penutupan Meranti Putih Perform Art Festival (MP2AF) 2025 di Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, berlangsung meriah dan penuh keriuhan, Minggu (30/11) siang.
Baca Lainnya :
- Obyek Wisata Hutan Meranti Jadi Tempat Acara Grebeg Kampung0
- Kontingen Kalsel Raih Peringkat 6 Nasional di Kejurnas Tenis Meja 20250
Ratusan warga yang hadir tumpah ruah di kawasan Wisata Hutan Meranti, menanti momen sakral sekaligus paling dinanti berebut hasil bumi Grebek Kampung.
Masyarakat Desa Sebelimbingan terlihat berbondong-bondong membawa hasil panen terbaik mereka, mulai dari aneka sayuran segar, singkong, kacang-kacangan, hingga buah-buahan lokal. Semua dikumpulkan dalam tumpeng hasil bumi raksasa, wujud nyata rasa syukur.
Begitu acara resmi ditutup, ratusan tangan langsung bergerak cepat. Dengan suasana gembira, tua dan muda saling berebut mendapatkan berkat hasil bumi tersebut, yang dipercaya membawa berkah.
Momen rebutan hasil bumi ini menjadi pemandangan yang paling menarik perhatian pengunjung.
Kholil, Koordinator Lapangan sekaligus Fasilitator Grebek Kampung, menjelaskan bahwa tradisi ini adalah warisan lama, dulu dikenal sebagai Grebeg Suro, yang kembali dihidupkan melalui kolaborasi dengan event Meranti.
"Tujuan utama Grebek Kampung adalah untuk menyampaikan dan mewujudkan kebersamaan," tegas Kholil.
Ia menambahkan, esensi dari kegiatan ini adalah menguatkan kembali semangat gotong royong yang mulai memudar, di mana warga bahu-membahu mencari kayu dan daun untuk keperluan memasak.
"Ini adalah rasa syukur kami. Makanya kami keluarkan semua hasil bumi, yang bisa dinikmati bersama-sama," jelasnya. Kholil menyebut, yang paling unik adalah penyajian makna-makna di dalam tumpeng, menggunakan bahasa Jawa kuno, yang memancing keingintahuan para tamu.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, yang hadir dalam penutupan, memberikan apresiasi tinggi terhadap tradisi ini dan menyebutnya sebagai warisan lokal yang kaya nilai sejarah, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat.
Wabup menantang warga agar kegiatan Grebek Kampung tahun depan ditingkatkan skalanya.
"Kalau bisa tahun depan lebih besar lagi. Di sini kan ada tiga desa, ya? Megasari, Sebelimbingan, Gunung Sari. Wah, jadi satu, ramai-ramai lebih besar lagi nanti acaranya," seru Wabup.
Namun, ia mengingatkan bahwa Grebek Kampung dan Wisata Hutan Meranti hanya akan maju jika masyarakatnya ramah.
"Mari hormati, hargai para tamu yang datang di sini, karena wisata yang maju ketika orang-orangnya juga ramah menerima para tamu dari luar," tegas Wabup. (ril/adv)
Baca Lainnya :
- Lagi, Polres Kotabaru Bekuk Penjual Zenith0
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
Berita Kotabaru

.jpg)
.jpg)











