- Ketua DPK APINDO Kotabaru, Putra: APINDO Menjadi Rumah Bersama Para Pengusaha
- Ketua DPRD Kotabaru Hadiri Pengukuhan DPK APINDO Kotabaru periode 2026–2031
- WALHI Sebut RSPO is Greenwashing! Buyers Diminta Hentikan Pembelian Dari Pemasok Terkait Karhutla
- Wawali Banjarbaru Mundur! Ketua GMPD: Pengganti Harus Dari Partai Koalisi dan Dekat Kepada Warga
- WALHI Kalsel Desak KLH Buka Data 335 Perusahaan yang Diinvestigasi Terkait Karhutla
- Pemkab Kotabaru dan Kementerian ATR/BPN Bahas Potensi Pengembangan Serongga
- Diskusi Kritis di Banjarbaru, Djarot PDIP: Anak Muda Diam, Politik Akan Dikuasai Orang Tidak Waras
- 20 Korporasi Tersangka Karhutla, WALHI Region Kalimantan Tantang Polri Penjarakan Direkturnya!
- Pelantikan KNPI Kotabaru Periode 2026–2029, Pemuda Diajak Bersatu dan Berkontribusi untuk Daerah
- Pengurus KNPI Kotabaru Periode 2026–2029 Resmi Dilantik, Kadisparpora: Kami Siap Kolaborasi
Opini | Kotabaru, Banjir Rutin Mendadak

Keterangan Gambar : Banjir di Kotabaru, yang menyisakan banyak derita bagi masyarakat, Kamis (28/8/2025).
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - “Semua sungai menuju ke laut, tapi rumah-rumah menghalanginya”. Begitulah gambaran Kotabaru, khususnya di Kecamatan Pulau Utara, yang setiap kali hujan di wilayah gunung, selalu dilanda banjir mendadak.
Baca Lainnya :
- Pernyataan Sikap Forum Ambin Demokrasi: Demokrasi Harus Damai0
- Pemkab Kotabaru Gelar Giat Bedah Buku Koki Otonomi: Resep Memajukan Pemerintah Daerah0
Banjirnya memang tidak lama, namun debit airnya banyak dan deras. Akan semakin tinggi, manakala bertemu air laut pasang dalam.
Pasti tidak ada yang salah dengan hujan dan air pasang. Sejak dahulu kala sudah terjadi, tapi banjir baru sekitar 10 tahun ini, dan kondisinya semakin parah.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan agar tidak menjadi bencana?
Tidak ada pilihan, kecuali melakukan 2 hal, yaitu reboisasi di wilayah gunung, seraya menghentikan segala bentuk aktivitas yang mengeksplotasi alam, termasuk tambang dan perkebunan besar. Dan yang tidak kalah penting, membebaskan sungai dari segala rintangan, agar air dari gunung mengalir bebas menuju laut.
Kemauan untuk membebaskan sungai dari segala rintangan, terutama rintangan berupa hunian, memerlukan ketegasan dan kesadaran dari seluruh warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
Bila sungai Baharu yang alirannya melewati Sungai Warik dan Kampung Kuin dapat dibebaskan dari segala rintangan, sebagian dari problem banjir tak terkendali di wilayah Agus Salim pasti akan teratasi.
Seluruh bangunan yang menutupi lebar sungai, mesti dibongkar tanpa kecuali. Dasar sungai dikeruk, agar kedalamannya bertambah dan daya tampungnya juga akan meningkat. Pulihkan kondisi sungai seperti dahulu kala, agar dalam dan lebarnya memungkinkan jukung tiung dapat lewat.
Seandainya sungai Baharu bisa dipulihkan, kota ini akan semakin cantik, karena sungai yang membelah kota ini sangat unik, mempertemukan air gunung dan air laut, sehingga rasanya sering kali payau dan kalau kondisinya bersih, akan menjadi kolam renang terpanjang setiap datang air pasang, tempat anak-anak bermain dengan suka cita.
Begitu juga sungai lainnya, mulai dari Kampung Bakti, Pal Satu, Dirgahayu, hingga Sungai Taib, ditata dan remajakan, sehingga mampu menampung luapan air.
Namun, bila tidak ada kemauan dan kesadaran, pastilah banjir akan terus terjadi. Kondisinya bahkan terus meningkat dari waktu ke waktu, seiring dampak dari perubahan iklim. Apalagi penebangan dan perusakan hutan di gunung tidak bisa dicegah. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250




.jpg)

.jpg)







