- Bupati Kotabaru Hadiri Peringatan Hari Buruh 2026 di Kelumpang Hulu
- Disparpora Kotabaru Gelar Pelatihan Kepemimpinan Pemuda, Siapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
- LKPJ Bupati Tahun 2025, DPRD Kotabaru Cermati Soal Infrastruktur dan Kesehatan
- Ketua DPRD Kotabaru, Suwanti Pimpin Rapat Paripurna LKPJ Bupati Tahun 2025
- Opini | Tipiring Sampah, Dan Logika Terbalik Pelayanan Publik?
- Pesona Kampung Nelayan Kotabaru Tak Pernah Surut
- Pemprov Kalsel Dorong Ketahanan Pangan Keluarga, Posyandu dibantu Bibit Tanaman Obat dan Sayur
- Gubernur Kalsel Dorong Hilirisasi Batubara Menuju Target Pertumbuhan Ekonomi 8,1 Persen
- BI Kalsel Paparkan Strategi, Investasi dan Hilirisasi Batubara untuk Capai Pertumbuhan 8,1 Per
- Disparpora Kotabaru Dorong GEKRAFS Dalam Penguatan Ekonomi Kreatif Melalui Pertunjukan Even
OPINI | Integritas, Mahkota Guru Besar

Keterangan Gambar : Ilustrasi guru besar
Oleh: Noorhalis Majid
Banjarmasin, Borneopos.com - Guru Besar, pasti bukan sekedar jabatan fungsional akademik tertinggi bagi dosen. Padanya tersirat kepakaran dan pengakuan atas karya ilmiah, peran serta kontribusi maksimal bagi masyarakat luas. Tercermin teladan akademik, bahkan menjadi motivator, penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, baik melalui pengajaran, penelitian serta keaktifan dalam penyebaran gagasan melalui tulisan.
Baca Lainnya :
- BI Kalsel Dorong Akselerasi Ekonomi Digital Melalui Banua QRIStival 20250
- Lestarikan Budaya Dayak, Pemkab. Kotabaru Hadiri Acara Adat Bawanang di Desa Laburan0
Ki Hajar Dewantara, memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Guru Besar, sebagai orang yang harus diteladani, baik menyangkut cara bersikap, berprilaku, atau pun berpikir terhadap lingkungan dan masyarakatnya.
Seorang Guru Besar, haruslah independent dari intervensi apapun, agar pendapat, pikiran dan tindakannya hanya berdasarkan keilmuan dan kepakarannya. Bukan karena tekanan apalagi pesanan. Karena itu, haruslah senantiasa mengembangkan kualifikasi keilmuan, agar sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman, ilmu dan terknologi.
Lantas, apa mahkota Guru Besar? Karena dia menjadi panutan, contoh dan teladan, tentu saja mahkotanya adalah integritas. Bahkan menurut Buya Hamka, bukan saja harus menjadi teladan, juga harus memiliki prinsif yang teguh, tidak mudah goyah oleh apapun.
Bicara tentang integritas kepada Guru Besar, seperti menggarami lautan – “kaya bajual dapur ka Nagara,” dia pasti lebih ahli dan mumpuni dari siapapun. Karenanya, manakala Guru Besar masih bermasalah dalam soal integritas, seperti satu peringatan atau alarm keras, terkait hal sangat mendasar yang sedang terjadi di dunia pendidikan dan masyarakat berbudaya.
Pepatah lama mengingatkan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Bila Guru besar masih bermasalah dalam soal integritas, bagaimana mungkin sekolah dan kampus dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran, etika dan moral kepada segenap murid? Bukankah integritas tidak cukup hanya dengan ceramah dan kata-kata. Diperlukan tauladan, contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru. Filosopi Jawa bahkan telah lama mengajarkan, seorang guru harus digugu dan ditiru. Digugu berarti dipercaya, diyakini kebenarannya dan patut didengarkan, sedangkan ditiru, sikap dan perbuatannya layak dicontoh karena mengandung ketinggian akhlak dan nilai luhur.
Tanpa mahkota integritas, Guru Besar tidak akan bermakna apapun. Bahkan lebih hina dari manusia biasa yang tanpa ilmu. Sebab ternyata ketinggian ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, tidak menjadi pencerah dalam menuntun tindakan, sikap, kata-kata dan perbuatan. Harus diketahui, peradaban berduka, manakala Guru Besar ternyata integritasnya keropos. (nm)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita KALSEL







5.jpg)

.jpg)




