- Perkuat Sinergi, DPD KNPI Silaturahmi Dengan Bupati Hulu Sungai Selatan
- DPD KNPI Kalsel Gelar Rakerda, Susun Program Kerja Tiga Tahun ke Depan
- Byar Pret! Byar Pret! LBH Borneo Nusantara Resmi Gugat PLN di PTUN Banjarmasin
- Pelindo Kotabaru Perkuat Sinergi Maritim, Dukung Open Ship KRI Banjarmasin-592 di Pelabuhan Stagen
- Menko Polkam Apresiasi Penanganan Karhutla di Kalsel, BPBD Perkuat Lima Posko Lapangan
- Menko Polkam Optimistis Karhutla Kalsel Terkendali, Tekankan Sinergi dan Kepedulian Masyarakat
- Hasnuryadi Sulaiman: Sinergi Kuat Banua Hebat Jadi Fondasi Pembangunan dan Keamanan Kalsel
- FKG ULM Selaraskan Persepsi Instruktur Klinik melalui Workshop Clinical Teaching Berbasis OBE
- Ratusan Pesepakbola Ikut Seleksi Pembentukan Tim Peseban Jelang Piala Soeratin U-17 Kalsel
- Puluhan Warga Rantau Bakula Geruduk PT Merge Mining Industri Tuntut Hentikan Operasi
[Kolom Budaya] : PIRAGAH MARISTA
![[Kolom Budaya] : PIRAGAH MARISTA](https://borneopos.com/asset/foto_berita/IMG-20241211-WA0010.jpg)
Keterangan Gambar : Noorhalis Majid, Penulis dan Budayan Banjar
PIRAGAH MARISTA
Oleh: Noorhalis Majid
Baca Lainnya :
- Bupati Samosir Salurkan 6,7 Milyar Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya0
- Personil Polres Samosir Dampingi Pemdes Tanjung Bunga Dan Lumban Pinggol Layani Masyarakat0
Jauh sebelum orang Banjar kenal dengan istilah yang lagi popular sekarang, disebut anak muda dengan ungkapan playing victim, orang Banjar sudah kenal dengan apa yang disebut “piragah marista”.
Waktu itu belum muncul kata playing victim, dia hanya dikenal dalam kurun waktu satu dasawarsa ini. Sebelumnya entah ada dimana kata itu berada. Mungkin belum ditemukan sebagai satu ungkapan, atau ada di tempat lain dan kemudian karena luasnya pengaruh komunikasi, diserap dalam ungkapan orang Indonesia, khusus generasi sekarang.
Playing victim bermakna suatu pola perilaku seseorang yang selalu merasa dirinya sebagai korban dan kemudian menuduh orang lain atas masalah yang terjadi. Tentu ini dapat menjadi bagian dari masalah psikologi karena selalu menyalahkan orang lain, menghindari tanggung jawab, merasa tidak berdaya dan bersikap manipulatif.
Namun hebatnya, kebudayaan Banjar sudah lama punya padanan kata tersebut, yaitu “piragah marista”, bermakna berpura-pura, seolah-olah menderita, teraniaya, terjolimi, padahal dia sendiri pelakunya, biang perbuatannya.
Piragah itu sendiri dimaknai sebagai akting atau lakon, yang seolah-olah, bukan sesungguhnya. Ternyata sejak dulu orang mampu dan dapat berpura-pura memerankan sesuatu yang tidak sebenarnya. Maknanya tentu tidak selalu negatif, tapi mungkin bermasalah secara psikologi. Misal, piragah sugih tapi sebenarnya miskin. Piragah berkuasa, padahal tidak memiliki kuasa serta kewenangan apapun.
Marista sendiri bermakna sedih, dirundung duka nestapa, dan ditimpa kemalangan. Pun bukanlah bermakna negatif, karena tentu banyak orang yang bernasih nyata seperti itu, sedang tidak mendapat keberuntungan, sebaliknya justru kesialan dan penderitaan yang dirasakan.
Ketika kedua kata tersebut dipadukan menjadi “piragah marista”, maka jadilah dia playing victim sebagai mana dipahami orang sekarang. Dan tujuannya tentu saja memanipulasi agar yang semula sebagai pelaku, berbalik mendapat simpatik, perhatian, bahkan dukungan.
Sikap manipulatif seperti ini tentu sangat jahat karena telah berdusta memanipulasi kenyataan yang sebenarnya dan beroleh keuntungan dari simpatik, perhatian serta dukungan. Padahal bisa saja pihak yang benar-benar dirugikan justru semakin teraniaya dan menderita. (ril/NM)
Baca Lainnya :
- Jembatan Pulau Laut Dilanjut, Anggaran 2024 APBD Kalsel 295 M Dan Kotabaru 100 M, Pelaksana Asri-Pra0
- 28 Rumah Ludes Dijilat Sijago Merah Di Kotabaru, Kerugian Capai Milyaran Rupiah0











