- Jajaran Pemkab Kotabaru Ikuti Pidato Presiden Dalam Rangka HUT ke- 81 di Rapat Paripurna DPRD
- Kolaboasi Dinas PUPR Kotabaru Bersama KODIM 1004 Hasilkan Infrastrktur Jalan dan Jembatan
- Bapperida Kotabaru Siap Fasilitasi Promosi dan Kampanye Inovasi SKPD
- Perkuat Kinerja Birokrasi Pemkab Kotabaru Lantik Pejabat Administrator Dan Pengawas
- Dishub Sukses Gelar HubFest 2026
- Kwarcab Kotabaru Lepas Kontingen Menuju Jambore Nasional ke-XII di Cibubur
- Meriahkan HUT RI ke-81, Disparpora Kotabaru Gelar Turnamen Minisoccer Antar Instansi
- Gubernur Kalsel Muhidin Sambut Kajati Kalsel Baru, Sukarmadji Sumarinton
- Siring Laut Dipenuhi Pecinta Wayang Kulit, Kolaborasi Dewan Kesenian Kotabaru dan PEPADI
- Masuki HUT ke-51, Indocement Catat Laba Periode Berjalan Rp589,6 miliar atau naik 19,2%.
Direktur RSUD Kotabaru Angkat Bicara Soal Pasien Meningal Dunia Usai Menerima Obat Suntik/Infus

Keterangan Gambar : Direktur RSUD Pangeran Jaya Sumitra Kotabaru.
Kotabaru, Borneopos.com - Meninggalnya seorang pasien berusia 24 tahun yang berinisial DV usai menjalani operasi di RSUD Pangeran Jaya Sumitra Kabupaten Kotabaru pada Senin (15/6/2026) lalu yang sempat membuat heboh dan ketidakpuasan keluarga atas pelayanan dan kinerja RSUD.
Baca Lainnya :
- Pelindo Kotabaru Perkuat Budaya Sadar Risiko Melalui Pelatihan Risk Awareness0
- Kunjungan PB FASI Jadi Momentum Promosi Wisata Dan Dorong Pengembangan Olahraga Dirgantara Kotabaru0
Untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut, jurnalis Borneopos mendatangi kediaman keluarga korban serta mengonfirmasi langsung kepada pihak RSUD Kabupaten Kotabaru terkait penanganan medis yang diberikan kepada pasien.
Menurut keterangan keluarga, DV mengalami kecelakaan dan sempat mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Serongga sebelum dirujuk ke RSUD Kotabaru sekitar pukul 11.00 WITA.
Setelah menjalani CT Scan, korban diketahui mengalami penumpukan cairan di bawah tempurung kepala serta retakan pada bagian wajah. Saat itu keluarga mendapat penjelasan bahwa operasi akan dilakukan pada sore hari setelah persetujuan tindakan diberikan.
Namun, operasi yang dijadwalkan sore hari disebut beberapa kali mengalami penundaan.
Keluarga mengaku sempat mempertanyakan hal tersebut karena khawatir kondisi korban memburuk, tetapi diminta menunggu sesuai arahan tenaga medis. Hingga malam hari, mereka mengaku belum mendapatkan kepastian jadwal operasi hingga akhirnya korban menjalani pemeriksaan tambahan sebelum dibawa ke ruang bedah.
Setelah sekian lama menunggu, operasi akhirnya dilaksanakan pada malam hari dan berlangsung sekitar tiga jam. Setelah sekitar 3 jam berlalu, operasi selesai sekitar pukul 23.30 WITA, dan pihak keluarga kemudian diminta masuk ke ruangan.
Saat keluarga masuk, pasien ditemui dalam kondisi berteriak dan meronta-ronta, hingga petugas harus meminta keluarga untuk membantu mengikat tangan pasien. Saat itu, pasien hanya dikawal oleh perawat ICU tanpa didampingi dokter.
Karena kondisi pasien yang terus meronta, perawat memberikan tindakan berupa suntikan/infus.
Disinilah cerita duka ini bermula. Setelah cairan tersebut masuk, denyut nadi pasien langsung melemah, hingga akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia. Lepas kejadian tersebut, pihak keluarga sama sekali tidak mendapatkan penjelasan ataupun keterangan dari dokter hingga saat ini.
Saat ditemui jurnalis Borneopos di RSUD Kabupaten Kotabaru, Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Penunjang Medik RSUD Kabupaten Kotabaru, Dr. Nasar Radfan mengakui bahwa keterbatasan komunikasi kerap terjadi saat pelayanan berlangsung.
“Sering kali petugas memberikan penjelasan yang tidak lengkap karena banyaknya pasien yang harus ditangani. Komunikasi memang menjadi salah satu kendala yang paling sering terjadi,” ujarnya, Rabu (23/6/2026).
Terkait kondisi pasien yang mengamuk setelah operasi, ia menjelaskan bahwa setiap tindakan medis memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi.
“Dokter hanya bisa memberikan upaya maksimal sesuai prosedur. Namun hasil akhir tidak selalu dapat dipastikan karena setiap tindakan medis memiliki risiko, termasuk kemungkinan terjadinya kondisi yang memburuk. Kami menjalankan tindakan sesuai standar yang berlaku, tetapi itu tidak menjamin hasil yang selalu baik,” katanya.
Sementara itu, Direktur RSUD Kabupaten Kotabaru, drg. Andriyan Wijaya, yang juga ditemui jurnalis Borneopos, menyampaikan bahwa sejak awal pihak rumah sakit telah menjelaskan berbagai risiko yang mungkin terjadi kepada keluarga pasien sebelum tindakan dilakukan.
“Sejak awal sudah disampaikan mengenai risiko yang ada dan kami telah berupaya semaksimal mungkin dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ujarnya.
Ia juga menanggapi terkait tindakan medis terakhir berupa suntikan/infus yang diberikan kepada pasien sebelum meninggal dunia dapat disampaikan oleh dokter penanggung jawab yang menangani proses anestesi maupun tindakan operasi.
“Untuk inestasis sendiri dari pihak dokter penanggung jawab bisa menjelaskan, dokter penanggung jawab ada 2, Dokter anestesi, dan kemudian dokter bedah yang menyiapkan pasien” pungkasnya.
Selain itu, pihak manajemen RSUD Kotabaru menyatakan akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi, terutama dalam meningkatkan komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien serta melakukan pembenahan terhadap pelayanan dan sarana pendukung medis di masa mendatang. (red/paridah)
Baca Lainnya :
- Laka Lantas Depan Kantor KPUD Kotabaru, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia0
- Kotabaru Miliki UMK Tertinggi Dari Empat Kabupaten Yang Ditetapkan Gubernur Kalsel Tahun 20250
Berita Kotabaru


.jpg)









